Laman

Minggu, 24 Juni 2012

ANCIENT EGYPT CIVILIZATION 
 (Memphis dan Kota Pemakaman)
oleh 
Andrik Suprianto

PROLOGUE
Mesir merupakan negeri besar yang mempunyai banyak sejarah kuno didalamnya. Pada masa sekitar tahun 3400-325 SM, Mesir telah memiliki kehidupan yang telah mapan dan menghasilkan kebudayaan yang besar dan menakjubkan. Kehidupan yang mapan tersebut terutama berada di kawasan aliran Sungai Nil. Berkat adanya sungai ini, masyarakat dapat mengembangkan kebudayaan dan keperluan hidup mereka. Mesir Kuno adalah suatu peradaban kuno di bagian timur laut Afrika. Peradaban ini terpusat sepanjang pertengahan hingga hilir Sungai Nil yang mencapai kejayaannya pada sekitar abad ke-2 SM, pada masa yang disebut sebagai periode Kerajaan Baru. Daerahnya mencakup wilayah Delta Nil di utara, hingga Jebel Barkal di Katarak Keempat Nil. Pada beberapa zaman tertentu, peradaban Mesir meluas hingga bagian selatan Levant, Gurun Timur, pesisir pantai Laut Merah, Semenajung Sinai, serta Gurun Barat (terpusat pada beberapa oasis). Mesir selama ini menjadi negara yang dikagumi terutama karena peninggalan dari kehidupannya pada masa lampau. Kehidupan penduduk di sepanjang aliran Sungai Nil sangat kompleks sehingga meninggalkan benda-benda yang banyak dan mengagumkan. Pada masa sekarang ini kita dapat melihat peninggalan dari kehidupan Mesir kuno seperti Piramid, Spink, Kuil Karnak dan Luxor serta masih banyak lagi. Berdasarkan peninggalan-peninggalan tersebut, dapat kita lihat bahwa kehidupan yang mereka miliki sudah sangat maju. Mereka juga memiliki kebudayaan yang berkembang sesuai dengan keadaan masyarakat pada saat itu.
Berkat adanya sungai Nil maka timbullah suatu peradaban yang besar. Awal perababan mesir Kuno atau kerajaan mesir kuno di mulai dengan penyatuan antara mesir atas dengan mesir bawah oleh Menes. Menes yang merupakan raja pertama kerajaan mesir kuno kemudian membangun kota Memphis atau Ineb-Hedj sebagai Ibukota Pertamanya. Kota Memphis yang akan dibahas dalam makalah ini menjadi ibukota kerajaan selama dinasti awal dan sampai kerjaan lama(old Kingdom). Selama kerajaan lama inilah berbagai bangunan megah terutama Piramida-piramida dibangun, yang juga sebagai tempat pemakaman Sang Raja. Untuk kompleks-kompleks pemakaman seperti Saqqara dan Giza akan dibahas juga dalam artikel ini.
 Keadaan Geografis Sungai Nil

Sungai Nil di Wilayah Mesir
Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia yaitu mencapai 6400 kilometer. Sungai Nil bersumber dari mata air di dataran tinggi (pegunungan) Kilimanjaro di Afrika Timur. Sungai Nil mengalir dari arah selatan ke utara bermuara ke Laut Tengah. Ada empat negara yang dilewati sungai Nil yaitu Uganda, Sudan, Ethiopia dan Mesir. Setiap tahun sungai Nil selalu banjir. Luapan banjir itu menggenangi daerah di kiri kanan sungai, sehingga menjadi lembah yang subur selebar antara 15 sampai 50 kilometer. Di sekeliling lembah sungai adalah gurun. Batas timur adalah gurun Arabia di tepi Laut Merah. Batas selatan terdapat gurun Nubia di Sudan, batas barat adalah gurun Libia. Kemudian batas utara Mesir adalah Laut Tengah.
Di sepanjang hilir bawah sungai Nil terdapat tanah datar subur yang sempit, berkat adanya banjir tahunan dari sungai tersebut. sudah sejak zaman prasejarah disitu hidup suatu bangsa yang mata pencaharianya bertani dan berternak dengan bentuk pemerintahan dan adat keagamaan yang kesemuanya itu diatur oleh suatu kasta kaum pemimpin bangsa (Daldjoeni, 1984:53).Wilayah subur sungai Nil memanjang mulai dari Memphis sampai Thebe. Wilayah Mesir yang dikelilingi gurun menjadikan daerah ini beriklim tropik. Aliran sungai yang diibaratkan sebagai oase kehidupan bagi penduduk Mesir terutama yang tinggal di sekitar Sungai Nil, memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka.
Peradaban bangsa Mesir sangat mendasarkan pada kesuburan sungai Nil. Bangsa Mesir telah menetap di lembah Nil dikarenakan melimpahnya air di sungai ini dan karena mereka bisa mengolah tanah dengan persediaan air yang telah diberikan oleh sungai yang tidak tergantung kepada musim hujan. Inilah sebabnya mengapa banyak daerah di benua yang besar ini sangat luar biasa keringnya. Bagian-bagian dari benua ini tertutup oleh lautan pasir yang sangat luas. Di kedua sisi sungai Nil juga tertutup oleh pasir dan di Mesir sendiripun jarang terjadi hujan. Namun di negeri ini hujan tidaklah terlalu dibutuhkan karena sungai Nil yang mengalir melintas ditengah-tengah seluruh negara
Namun secara ilmiah, air tersebut berasal dari gletsyer yang mencair dari pegunungan Kilimanjaro sebagai hulu sungai Nil. Peranan sungai Nil begitu penting bagi lahirnya kehidupan masyarakat di lembah sungai tersebut. Maka tepatlah jika Herodotus menyebutkan “Mesir adalah hadiah sungai Nil (Egypt is the gift of the Nile)" (Daldjoeni, 1984:56).Lembah sungai Nil yang subur mendorong masyarakat untuk bertani. Air sungai Nil dimanfaatkan untuk irigasi dengan membangun saluran air, terusan-terusan dan waduk. Air sungai dialirkan ke ladang-ladang milik penduduk dengan distribusi yang merata. Untuk keperluan irigasi dibuatlah organisasi pengairan yang biasanya diketuai oleh para tuan tanah atau golongan feodal. Hasil pertanian Mesir adalah gandum, sekoi atau jamawut dan jelai yaitu padi-padian yang biji atau buahnya keras seperti jagung.
 Memphis, sebagai Ibukota pertama Kerajaan Mesir Kuno
Mesir Kuno adalah suatu peradaban kuno di bagian timur laut Afrika. Peradaban ini terpusat sepanjang pertengahan hingga hilir Sungai Nil yang mencapai kejayaannya pada sekitar abad ke-2 SM, pada masa yang disebut sebagai periode Kerajaan Baru. Daerahnya mencakup wilayah Delta Nil di utara, hingga Jebel Barkal di Katarak Keempat Nil. Pada beberapa zaman tertentu, peradaban Mesir meluas hingga bagian selatan Levant, Gurun Timur, pesisir pantai Laut Merah, Semenajung Sinai, serta Gurun Barat (http://id.wikipedia.org/wiki/mesir_kuno)
Sejarah politik di Mesir berawal dari terbentuknya komunitas-komunitas di desa-desa sebagai kerajaan-kerajaan kecil dengan pemerintahan desa. Desa itu disebut nomen. Perjalanan kerajaan mesir kuno dimulai pada abad ke-3 SM, Pendeta Mesir Manetho mengelompokan garis keturunan Firaun (Paraoh) dari Menes ke masanya menjadi 30 dinasti. Pendeta Manetho memilih untuk memulai sejarah resminya melalui raja yang bernama "Meni" (atau Menes dalam bahasa Yunani). Raja menes adalah Raja pertama di masa Kerajaan Lama (Old Empire) yang berkuasa di abab 32 SM. Dialah Firaun pertama  yang dipercaya telah menyatukan kerajaan Mesir Hulu dan Hilir atau dalam sejarah dikenal dengan nama Lower Egypt dan Upper Egypt. Nama lain Raja Menes dalah Narmer. Sejak Narmer, Firaun Mesir menggunakan mahkota bertumpuk dua yang dikenal sebagai double crown, sebagai simbol penyatuan kerajaan Hulu dan Hilir, kemudian dilanjutkan penyatuan lambing bunga lotus dan pohon bunga papirus yang menjadi simbol kesejahteraan kedua kerajaan (Mustofa, 2010 : 11)
Beberapa ahli kini meyakini bahwa figur "Menes" mungkin merupakan Narmer, yang digambarkan mengenakan tanda kebesaran kerajaan pada pelat Narmer yang merupakan simbol unifikasi. Pada periode dinasti awal, sekitar 3150 SM, firaun pertama memperkuat kekuasaan mereka dengan mendirikan ibukota di Memphis. Pemilihan Kota Memphis di lembah sungai Nil, yang berada di perbatasan wilayah kerajaan hulu dan hilir, itu juga sebagai lambang penyatuan. Kota yang sangat strategis berada di pintu delta sungai Nil yang subur dikelilingi tembok yang melindungi kota dari luapan sungai Nil saat banjir tahunan. Kota itu diberi diberi nama dengan Ineb-Hedj, yang dalam bahasa Mesir kuno bermakna “tembok putih”.  Sedangkan nama Memphis baru muncul kemudian, yang dalam bahasa Yunani bermakna “Kota Indah yang Tertata Rapi”, yang karena didalamnya banyak ditemukan taman yang indah dengan air mancur, kuil-kuil, dan istana-istana yang megah (Mustofa, 2010:11).
Untuk membangun ibukota tersebut aliran sungai nil yang semula berada di kaki gunung yang terletak di bangian barat negeri mesir, diarahkan aliranya kearah yang sekarang ini. Maka timbulah tanah lapang yang oleh peralihan aliran sungai tersebut. ditempat itulah dibangun sebuah kota yang dikenal dengan nama Ineb-Hedj (Memphis) yang letaknya di mesir hilir sebelah barat(Anonymous, 2004 : 113). Peningkatan kekuasaan dan kekayaan Firaun pada periode dinasti awal dilambangkan melalui mastaba (makam) yang rumit dan struktur-struktur kultus kamar mayat di Abydos, yang digunakan untuk merayakan didewakannya firaun setelah kematiannya. Institusi kerajaan yang kuat dikembangkan oleh firaun untuk mengesahkan kekuasaan negara atas tanah, pekerja, dan sumber daya alam, yang penting bagi pertumbuhan peradaban Mesir kuno (http://id.wikipedia.org/wiki/mesir_kuno). Selama Kerajaan Lama (2649 atau 2575-2134 SM), Memphis, bersama dengan Thebes, merupakan pusat utama politik, komersial, dan budaya. Banyak sejarawan yakin Memphis merupakan pusat administrasi bagi sebagian besar sejarah fir'aun. Berdasarkan Ptolemies (305-30 SM), Memphis adalah kota paling penting di wilayah setelah Alexandria (Fegley, 2005).
Memphis menjadi ibukota Mesir Kuno selama delapan dinasti berturut-turut selama Kerajaan Lama.Dengan Memphis, sebagai ibukotanya Kerajaan Mesir Lama mengalami zaman keemasan pada masa Dinasti VI, dengan raja yang terkenal yaitu raja Khufu atau Cheops (2589-2566 SM). Pada masa dinasti ini kerajaan Mesir Lama telah mempunyai sentralisasi yang kuat. Disamping itu mulai berkembang kemajuan dalam bidang arsitektur berbagai bangunan yang besar seperti kompleks piramida di Giza, pemakaman Raja di Necrepolis dan Kuil Ptah (Necropolis akan bahas di sub bab berikutnya). Kejayaan kedua dilanjutkan pada masa Dinasti VI dengan raja yang terkenal adalah Raja Teti. Pada masa dinasti ini pemerintahan sudah menjadi kuat. Seiring dengan meningkatnya kepentingan pemerintah pusat, muncul golongan juru tulis dan pejabat berpendidikan, yang diberikan tanah oleh Firaun sebagai bayaran atas jasa mereka. Kota ini mencapai puncak kejayaannya di bawah dinasti VI sebagai pusat penyembahan Ptah, dewa penciptaan dan karya seni. Patung Sphinx dipercayai sebagai penjaga kuil Ptah berfungsi sebagai peringatan puncak kejayaan kota Memphis. Tiga dewa Memphis yang terdiri dari pencipta dewa Ptah, Sekhmet, dan Nefertem putra mereka, membentuk fokus utama ibadah di kota (http://en.wikipedia.org/wiki/Memphis,_Egypt).
Kota Memphis bila dibandingkan dengan ibukota kerajaan baru Luxor, Memphis lebih banyak memainkan peran lebih lama. Bahkan, ketika ibukota kerajaan Mesir kuno sudah dipindahkan ke Luxor, kota Memphis masih berperan sekitar 500 tahun, sedangkan Memphis bertahan sampai lebih dari 3000 tahun hingga zaman romawi berkuasa di Mesir (Mustofa, 2010: 11).
Di zaman kerajaan kuno sering kali terjadi serbuan musuh dari gurun Libya yang letaknya disebelah Barat dari delta Nil. Serbuan dari luar ternyata ada manfaatnya juga bahwa orang mesir tambah pengetahuan tentang adat istiadat baru , gagasan baru dan bentuk perekonomian baru (Daldjoeni, 1984:58). Runtuhnya  kerajaan lama disebabkan karena sejak tahun 2500 SM pemerintahan mengalami kekacauan. Bangsa-bangsa dari luar misalnya dari Asia Kecil melancarkan serangan ke Mesir. Para bangsawan banyak yang melepaskan diri dan ingin berkuasa sendiri-sendiri. Akhirnya terjadilah perpecahan antara Mesir Hilir dan Mesir Hulu. Memphis menurun setelah dinasti ke-18 dengan munculnya Thebes dan Kerajaan Baru, dan dihidupkan kembali di bawah Persia sebelum jatuh kuat ke tempat kedua setelah pondasi dari Alexandria. Di bawah Kekaisaran Romawi, Alexandria tetap kota paling penting. Memphis tetap kota kedua Mesir sampai pada 641 SM. Saat itu sebagian besar ditinggalkan dan menjadi sumber batu untuk permukiman sekitarnya.
Komplek-Komplek Pemakaman Besar atau Necropolis.
1.    Saqqara dan Dahshur
Kemajuan dalam bidang arsitektur, seni, dan teknologi dibuat pada masa Kerajaan Lama (Old kingdom). Kemajuan ini didorong oleh meningkatnya produktivitas pertanian, yang dimungkinkan karena pemerintahan pusat dibina dengan baik. Dibawah pengarahan pejabat-pejabat negara mengumpulkan pajak, mengatur proyek irigasi untuk meningkatkan hasil panen, mengumpulkan petani untuk bekerja di proyek-proyek pembangunan, dan menetapkan sistem keadilan untuk menjaga keamanan. Dengan sumber daya surplus yang ada karena ekonomi yang produktif dan stabil, negara mampu membiayai pembangunan proyek-proyek kolosal dan menugaskan pembuatan karya-karya seni istimewa (http://id.wikipedia.org/wiki/mesir_kuno).

Kompleks Makam Raja-raja Mesir
Berbagai proyek-proyek kolosal diantaranya adalah Kompeks Makam besar Saqqara, Dahsur dan Giza. Ketiga tempat ini merupakan merupakan kompleks makam terbesar  atau Kota Makam atau  Necropolis. Necropolis juga merupakan hasil perababan kerajaan lama yang dibagun oleh raja-raja yang berkuasa selama kerajaan lama. Wilayah necropolis membentang sepanjang  40 Km. didalamnya terdapat lebih dari seratus piramida yang menakjubkan, serta ratusan makam kerabat Firaun, pendeta dan pejabat-pejabatnya. Kawasan yang membentang sepanjang puluhan kilometer itu ternyata tidak ditemukan artefak istana Firaun secara signifikan. Justru yang diketemukan adalah kompleks pemakaman. Kompleks pemakaman ini terkait dengan filosofi masyarakat Mesir Kuno yang memandang kehidupan sesudah mati jauh lebih penting dibandingkan dengan kehidupan sekarang. Kebanyakan raja Mesir segera menyiapkan kuburanya setalah dilantik menjadi raja. Baik dirancang dalam bentuk mastaba ataupun piramida yang spektakuler, atau dibuat dalam bentuk perbukitan. Bahan baku pembangun istana raja berbeda dengan bahan baku pembuatan pemakaman. Istana raja terbuat dari batu bata dan tanah liat yang sudah mengeras sedangkan pemakaman terbuat dari batu, sehingga Istana tidak bertahan lebih lama (Mustofa, 2010 : 5).
Pembuatan Kota Makam merupakan ide  dari seorang arsitek multitalenta  dan juga Pendeta yang terkenal pada waktu itu, yaitu Imhotep. Pada dinasti awal, makam-makam raja mesir berbentuk mastaba, yaitu sebuah ruanngan yang dibentuk dari tumpukan batu yang didalamnya terdapat peti mumi Firaun. Imhotep mengembangkan sebuah piramida yang monumental. Karena ide-ide Imhotep yang brillian itulah, dikawasan Necropolis sekarang didirikan Museum Imhotep. Dalam Kota Makam Necropolis piramida tertua adalah Piramida Sakkara (Saqqara). Bentuk piramida ini sangat unik dibandingkan dengan piramida-piramida pada umumnya. Piramida ini menjadi makam Firaun Djoser (2667-2648 SM) yang merupakan Raja dari Dinasti III di zaman Kerajaan Lama. Piramida Sakkara atau Piramida Djoser itu berbebtuk bangunan bertingkat yang mengecil dibagian puncaknya. Tinggi piramida ini sekitar 60 meter, bertingkat enam dan terbuat dari balok-balok batu kapur yang ditumpuk secara berjenjang. Selain Piramida Djoser dalam Necropolis juga terapat makam-makam raja Firaun yang juga berbentuk piramida yaitu Piramida Userkaf, Unas, Pepi, Djoser, dan Sekhemet (Mustofa, 2010: 11).
Kemudian didekat kawasan Saqqara ada kompleks pemakaman lagi yaitu kompleks Dahshur. Kompleks ini dibangun setelah Saqqara yang dibangun oleh Raja Snefru (2613 - 2589 SM). Kompleks Dahshur memang lebih kecil dibandingkan Saqqara. Area kompleks ini hanya membentang sepanjang 4 km sedangkan Saqqara 7 km. Tetapi, yang menarik dari kawasan Dahshur adalah nilai sejarah pembuatan Piramidanya. Inilah Piramida kedua yang dibangun setelah piramida berjenjang di Saqqara. Maka, ada yang menyebut Piramida Dahshur ini sebagai piramida pertama yang berbentuk benar-benar piramida. Sebab, yang di Sakkara itu tidak berbentuk piramida murni. Melainkan seperti sebuah bangunan bertingkat yang bertumpuk mengerucut (Mustofa, 2010 : 6).
Piramida Buatan Snefru terkenal dengan nama Piramida Bengkok. Karena pada waktu pembuatan, kemiringan Piramida itu terlalu terjal, yaitu 54 derajat. Sehingga ketika dibangun, para pekerjanya mengalami kesulitan untuk merealisasikan bagian atas bangunan. Dan kemudian arsiteknya mengubah sudut kemiringannya menjadi 43 derajat. Bangunan piramida itu terlihat bengkok di bagian atasnya. Sehingga, sampai sekarang banyak yang menyebut Piramida Dahshur yang memiliki tinggi 105 meter itu sebagai Piramida Bengkok. Atau, ada juga yang menyebutnya sebagai Piramida Snefru-Bent (Mustofa, 2010 : 6).
2.    Giza.
Giza juga merupakan kompleks pemakaman Necropolis yang terhebat yang menakjubkan dari sisi desain serta mampu bertahan selama 5000 tahun. Kompleks ini dibangun oleh anak dan cucu Raja Snefru dari dinasti ke 4 itu memiliki luas sekitar 13 hektar. Didalamnya ada tiga piramida utama yang dibangun oleh anak cucu raja Snefru. Snefru di kenal dikenal dengan piramida bengkok-nya di Dahsur.
Piramida yang paling besar dan tertinggi adalah piramida Khufu atau Cheops (2589-2566 SM). Saat dibangun, tingginya 146 meter. Tapi kemudian runtuh pada ujungnya sehingga menjadi 136 meter. Piramida kedua adalah piramida Chefren, piramida ini dibangun oleh Raja Chefren (2558-2532 SM) yang merupakan anak dari Khufu. Tinggi piramida ini 136 meter lebih rendah sekitar 10 meter dari Piramida yang dibangun ayahnya, Khufu. Akan tetapi, karena pembangunan piramida itu di atas dataran yang tinggi, sehingga secara kasat mata terlihat lebih tinggi dari piramida khufu. Piramida Ketiga adalah Piramida Menkhaure, Menkhaure (2531-2503 SM)  adalah anak Chefren atau cucu dari Khufu. Tinggi aslinya hanya 66,5 meter. Tapi, kemudian runtuh sehingga menjadi 62 meter (Mustofa, 2010 : 15).
Pengalaman Snefru dalam membangun piramida di Dahshur menjadi pelajaran yang berharga bagi anak-cucunya untuk membangun kompleks Piramida Giza. Bukan hanya bentuknya yang sempurna, melainkan juga bebatuan yang menjadi bahan (Mustofa, 2010:). Kompleks Necropolis Giza juga terdapat  enam piramida berukuran lebih kecil sebagai makam istri raja dan ibunya. Tiga piramida disebelah Menkhaure, tiga lainya disebelah piramida Khufu. Salah satunya adalah makam Ratu Hethepheres yang tak lain adalah istri dari Raja Snefru atau ibu dari Raja Khufu (Mustofa, 2010 : 15).
Piramida Khufu dipercayai dibangun selama 20 tahun, akan tetapi proses pembangunan piramida itu masih kontroversial dan membuat orang terheran-heran. Pembangunan piramida Khufu dilakukan selama masa pemerintahan Raja Khufu. Proyek ini disebut juga proyek raksasa karena disusun lebih dari 2,5 juta balok batu granit utuh yang beratnya antara 2,5 ton hingga 15 ton . Raja khufu mengerahkan lebih dari 100 ribu tenaga kerja dan 20 ribu binatang ternak hanya untuk proyek itu (Mustofa, 2010:15).
Tidak diketahui bagaimana piramida-piramida itu dibuat tetapi sudah ada berbagai teori tentang teknik konstruksi. Kebanyakan teori konstruksi didasarkan pada gagasan bahwa piramida dibangun dengan memindahkan batu besar dari tambang dan menyeret kemudian mengangkat batu-batu itu  ke tempatnya. Dalam urusan seret-menyeret batu sebesar itu adalah hal yang sangat mustahil oleh karena binatang ternak sangat berfungsi untuk ini. Dalam membangun piramida besar seperti Khufu, para arsitek mungkin telah mengembangkan teknik mereka dari waktu ke waktu. Mereka akan memilih situs atau tempat  pada area yang relatif datar  yang bisa memberikan landasan yang stabil (http://en.wikipedia.org/wiki/Giza_Necropolis).
Pemilihan kekuatan tanah pendukung, jenis batu yang dipakai, ukuran dan kepadatan, sampai bentuknya dalam membangun piramida dimaksudkan agar tidak mudah runtuh sebelum waktunya. Arsitek piramida Giza yang bernama, Hemiunu, cucu dari raja Snefru benar-benar sangat memperhatikan hal tersebut. Pembangunan piramida Giza benar-benar merupak proyek raksasa yang luar biasa menakjubkan. Batu yang digunakan diperkirakan berjumlah 2.3 – 2.5 juta bergantung ukuran piramida-piramidanya. Sebab ukuran batu yang bawah berbeda dengan batu yang atas. Bagian bawah piramida merupakan pondasi sehingga batu yang dipakai harus lebih besar dan kuat. Setipa balok berukuran 1 x 2,5 x 1,5 meter dengan berat 6,5 meter. Batu yang bagian atas memiliki ukuran yang berbeda yaitu 1x1x0,5m dengan berat 1, 3 ton (Mustofa, 2010 : 15).
Untuk memastikan bahwa piramida tetap simetris, batu-batu casing eksterior semua harus sama tinggi dan lebar. Pekerja mungkin telah menandai semua blok untuk menunjukkan sudut dinding piramida dan dipangkas permukaan hati-hati sehingga blok cocok bersama-sama. Selama konstruksi permukaan luar dari batu itu batu kapur halus; batu kelebihan telah mengikis waktu telah berlalu (http://en.wikipedia.org/wiki/Giza_Necropolis).
Kawasan untuk pembangunan piramida juga memiliki alasan kenapa Piramida itu dibangun di kawasan gunung batu kapur Giza. Ada empat alasan untuk yang melandasi. Pertama adalah berhubungan dengan kemampuan atau daya dukung lahan terhadap daya tahan piramida yang demikian berat dengan beribu-ribu tumpukan batu. Kedua adalah gunung kapur Giza juga merupakan tambang bahan baku untuk piramida. Batuan dari gunung kapur giza dibuat balok dengan cara dipotong sesuai ukuran. Kesamaan jenis batu dengan tempat pembangunan piramida tersebut membuat hitungan konstruksi lebih sederhana dan terjamin. Ketiga adalah pemilihan dataran tinggi sebagai tempat pembangunan piramida dijadikan alasan agar terbebas dari banjir tahunan sungai tahunan sungai Nil yang selalu meluap menggenangi daerah yang luas. Alasan terakhir adalah berhubungan dengan kosmologi dimana kawasan barat sungai Nil yang memang dipersyaratkan bagi kawasan pemakaman penyembah Dewa Matahari (Mustofa, 2010 : 15)

DAFTAR RUJUKAN
Anonymous,2004. Ensklopedia Nasional Indonesia. Jakarta : PT Delta Pamungkas.
Daldjoeni. DHS. N.1984, Geografi Kesejarahan I & II. Bandung: Alumni.
Hall, H.R. 1950. The Ancient History of the Near East : From The Earliest Time to The Battle of Salamis. London : Methuen & CO LTD.
Fegley, Randall Arlin. 2005. Nile River. Microsoft Encarta Reference Library (CD-ROM : Microsoft ® Encarta ® Reference Library, 2005).
http://en.wikipedia.org/wiki/Memphis,_Egypt. Diakses pada tanggal 3 November 2010 pukul 6.33 WIB
http://en.wikipedia.org/wiki/Giza_Necropolis Diakses pada tanggal 3 November 2010 pukul 6.44 WIB
http://en.wikipedia.org/wiki/Saqqara Diakses pada tanggal 3 November 2010 pukul 6.49 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir_Kuno Diakses pada tanggal 3 November 2010 pukul 6.59 WIB
Mustofa, Agus, 26 Agustus, 2010. Memphis dan Necropolis Pertama di Dunia. Jawa Pos, hlm 11.
____________, 29 Agustus, 2010. Mumifikasi, Otak dan isi perut pun dikeluarkan. Jawa Pos. hlm 5.
____________. 27 Agustus, 2010. Dahshur, Piramida Bengkok yang Gagal. Jawa Pos, hlm 6.
____________. 28 Agustus, 2010. Bangun Piramida Giza dengan 2,5 Juta Batu. Jawa Pos, hlm 15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar